Dua orang dengan penghasilan serupa membeli properti di tahun yang sama. Namun, pengalaman mereka bisa sangat berbeda. Apa yang membedakan keduanya?
Jawaban singkatnya, investasi properti adalah pembelian aset properti untuk dipegang jangka panjang, dan keuntungan investasi properti paling terasa bagi yang punya tujuan jelas, dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, dan keuangan yang stabil. Kecocokan ini lebih ditentukan oleh kondisi pribadi daripada jenis properti. Karena itu, mengenal diri sendiri menjadi langkah pertama.
Sebelum membahas siapa yang cocok, kita perlu memahami dulu apa itu investasi properti. Pemahaman dasar ini membantu Anda menilai kesesuaiannya dengan kebutuhan. Mari mulai dari pengertiannya.
Baca Juga: Investasi Properti di Sentul? Ini Fakta dan Potensinya
Apa Itu Investasi Properti dan Bagaimana Cara Kerjanya
Investasi properti adalah pembelian tanah, rumah, apartemen, atau ruang komersial untuk dipegang dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya memperoleh nilai dari kenaikan harga, pendapatan sewa, atau keduanya. Namun, hasilnya tidak pernah pasti dan bergantung pada banyak faktor.
- Kenaikan nilai properti dalam jangka panjang.
- Pendapatan sewa dari penyewa.
- Risiko nilai naik atau turun, serta properti yang tidak mudah dicairkan cepat.
Prinsip dasarnya sejalan dengan penjelasan OJK tentang risiko dan imbal hasil. Semakin tinggi imbal hasil yang diharapkan, semakin tinggi pula risikonya. Dengan dasar ini, kita bisa melihat siapa yang lebih sesuai.
Investasi Properti Cocok untuk Siapa?
Tidak ada satu profil tunggal yang cocok untuk semua orang. Meski begitu, ada lima karakteristik yang umumnya membuat investasi properti lebih sesuai. Kita mulai dari soal tujuan.
Memiliki Tujuan Jangka Panjang
Properti umumnya dipegang bertahun-tahun, bukan hitungan bulan. Karena itu, investasi ini cocok untuk tujuan seperti dana pendidikan anak atau aset masa pensiun. OJK juga menyarankan mengenali profil investasi diri, termasuk tujuan dan jangka waktunya.
Memiliki Dana yang Tidak Dibutuhkan dalam Waktu Dekat
Properti tidak semudah instrumen lain untuk dicairkan saat Anda butuh uang. Karena itu, dana yang dipakai sebaiknya tidak akan terpakai dalam waktu dekat. Dana yang mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu lebih tepat disimpan di tempat yang mudah diakses.
Memiliki Keuangan yang Stabil dan Dana Darurat
Pembeli yang mencicil perlu memastikan cicilan dan biaya tambahan tetap terbayar meski pendapatan berubah. Dana darurat menjadi pelindung agar kewajiban itu tidak mengganggu keuangan lain. Dengan begitu, properti tidak menjadi beban sehari-hari.
Ingin Mendiversifikasi Aset
Properti bisa menjadi salah satu bagian portofolio, bukan satu-satunya. OJK mengingatkan agar kita tidak meletakkan seluruh dana dalam satu instrumen. Prinsip ini membantu menyebar risiko tanpa menghilangkan peluang keuntungan.
Siap Melakukan Riset dan Memeriksa Legalitas
Investor properti perlu mau meneliti pengembang, dokumen, dan lokasi sebelum membeli. OJK menyarankan untuk berinvestasi waktu sebelum berinvestasi uang. Sikap teliti ini membuat keputusan tidak hanya didorong promosi.
Investasi Properti Mungkin Belum Cocok untuk Siapa
Jujur pada diri sendiri sama pentingnya dengan melihat peluang. Investasi properti mungkin belum cocok bila Anda berada dalam kondisi tertentu. Berikut daftarnya.
- Anda mungkin membutuhkan dana dalam waktu dekat.
- Anda belum memiliki dana darurat.
- Cicilan akan menekan keuangan bulanan Anda.
- Anda mengharapkan keuntungan cepat.
- Anda belum siap mengurus properti, dari pemeliharaan hingga dokumen.
Bila beberapa poin sesuai, menunda atau mencari instrumen lain bisa lebih bijak. Keputusan ini bukan kegagalan, hanya penyesuaian dengan kesiapan. Selanjutnya, mari kaitkan tujuan dengan profil risiko.
Tujuan Investasi Properti dan Kaitannya dengan Profil Risiko
OJK membagi profil risiko menjadi tiga, yaitu konservatif yang menghindari risiko, moderat dengan toleransi risiko sedang, dan agresif yang mengejar imbal hasil tinggi jangka panjang. Tujuan investasi sebaiknya dicocokkan dengan profil ini. Pada properti, tujuan umumnya terbagi menjadi tiga.
- Nilai jangka panjang biasanya lebih sesuai bagi profil moderat hingga agresif yang siap menunggu.
- Pendapatan sewa biasanya menarik bagi yang mencari arus kas berkala, dengan risiko penyewa dan kekosongan.
- Hunian sekaligus aset biasanya cocok bagi yang ingin tinggal sambil menyimpan nilai.
Pengaitan ini adalah gambaran edukatif, bukan klasifikasi resmi. Anda tetap perlu menyesuaikannya dengan kondisi pribadi. Setelah tujuan jelas, ada beberapa tips untuk memulai.
Tips Memulai Investasi Properti
Keputusan investasi properti sebaiknya bertumpu pada hal yang bisa diverifikasi. Empat tips berikut membantu Anda memulai dengan lebih siap. Kita mulai dari aspek hukum.
Pastikan Legalitas dan Reputasi Pengembang
Bukti kepemilikan apartemen adalah sertifikat hak milik atas satuan rumah susun (SHM Sarusun), sedangkan PPJB hanya perjanjian pengikatan dan belum menunjukkan status hak milik. Mintalah dokumen tertulis dan jadwal pemecahan sertifikat sebelum membeli.
Hitung Biaya dan Pajak di Luar Harga Unit
Harga unit belum mencakup seluruh biaya yang perlu Anda siapkan. Menurut Direktorat Jenderal Pajak, beberapa komponen yang umum ada di bawah ini. Tarif bisa berubah, jadi periksa ke otoritas pajak atau pemerintah daerah.
- BPHTB bagi pembeli dengan tarif maksimal 5 persen.
- PPh final bagi penjual sebesar 0, 1, atau 2,5 persen tergantung kategori.
- PPN bila penjual adalah Pengusaha Kena Pajak.
- Iuran pemeliharaan dan asuransi gedung.
Rencanakan Pembiayaan dan Kemampuan Mencicil
Berdasarkan PADG 30/2025, Bank Indonesia mempertahankan kebijakan LTV/FTV kredit properti hingga 100 persen, berlaku sampai 31 Desember 2026. Secara aturan, kebijakan ini memungkinkan uang muka sangat ringan, tetapi setiap bank punya kebijakan sendiri dan uang muka ringan biasanya berarti cicilan lebih besar.
Pertimbangkan Lokasi dan Potensi Permintaan
Lokasi memengaruhi minat penyewa dan pembeli berikutnya. Hal yang layak dinilai meliputi akses transportasi, kedekatan dengan fasilitas harian, dan kawasan yang terencana. Tidak ada angka kenaikan harga yang pasti, jadi anggap lokasi sebagai faktor pendukung, bukan jaminan.
Opus Park: Apartemen di Kawasan Terintegrasi untuk Dipelajari Calon Investor

Opus Park adalah apartemen tiga menara, yaitu Pinnacle, Summit, dan Crest, yang dihubungkan SkyBridge dan terintegrasi dengan AEON Mall Sentul City. Apartemen ini hasil kolaborasi Gobel Group, Sumitomo Corporation, Hankyu Hanshin Properties, dan Sentul City. Bagi pembaca yang sesuai dengan profil di atas, Opus Park bisa menjadi salah satu opsi untuk dipelajari, dengan tetap mengecek legalitas, biaya, dan pembiayaannya.
Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Beli Apartemen? Ini Jawabannya
Kesimpulan
Investasi properti umumnya cocok bagi yang punya tujuan jangka panjang, dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, dan keuangan yang stabil. Tujuan dan profil risiko perlu dicocokkan, lalu legalitas, biaya, pembiayaan, dan lokasi perlu diperiksa. Isi artikel ini edukasi umum, sehingga keputusan investasi sebaiknya dikonsultasikan dengan penasihat keuangan.
Ingin mempelajari salah satu opsinya? Kunjungi Marketing Gallery Opus Park di Jl. MH Thamrin No. 63, Sentul City, Bogor, atau pelajari informasi resminya di opuspark.co.id. Anda juga bisa menghubungi tim di info@opuspark.co.id untuk menanyakan status dokumen dan skema pembayaran terbaru.


.webp)
